Menaklukkan sungai kluet
Ada cerita panjang ketika berada di menggamat hingga bisa menyusuri sungai kluet. Tugas kami di menggamat adalah observasi isu yang ada terkait lingkungan dan pemberdayaan perempuan, kemudian wawancara tokoh, dan pembuatan film dokumenter pendek.
Ketika sedang menggali informasi dari pak keuchik gampong koto, menggamat. Kami pun diberitahu bahwa besoknya akan ada acara doa tolak bala di hari rabu habeh (rabu terakhir bulan safar) di sekitar singai kluet. Kami juga dijanjikan untuk menyusuri sungai hingga ke perbatasan leuser menggunakan boat. Saat itu aku masih sangat ragu dan menolak, berhubung sudah malas naik boat. Tapi beberapa teman sangat antusias.
Esoknya, kami mengikuti dan mendokumentasikan acara rabu habeh tersebut yang dihadiri oleh hampir seluruh warga menggamat. Mereka berdoa dan berpiknik ria di pinggir sungai.
Setelah selesai makan siang dari bekal yang dimasak oleh ibu keuchik, beberapa teman masih membujukku untuk ikut naik boat. Keraguanku masih sangat besar. Apalagi setelah melihat boatnya yang sangat ramping dan tidak ada jaket pelampung. Selain itu juga cerita bahwa sungai kluet selalu menelan tumbal setiap tahun pun menambah ketakutanku. Namun karena melihat banyaknya warga yang juga bolak balik naik boat dan juga ingin merasakan sensasi mengarungi singai kluet, pada akhirnya aku pun mengiyakan namun harus menunaikan shalat zuhur dulu di pinggir sungai kluet.
Baru saja selesai wudhu, hp berdering mengisyaratkan aku dan satu temanku yang bernama Zahra untuk segera bergegas karena boatnya sudah siap. dua hingga tiga kali berdering.
Ketika sedang menggali informasi dari pak keuchik gampong koto, menggamat. Kami pun diberitahu bahwa besoknya akan ada acara doa tolak bala di hari rabu habeh (rabu terakhir bulan safar) di sekitar singai kluet. Kami juga dijanjikan untuk menyusuri sungai hingga ke perbatasan leuser menggunakan boat. Saat itu aku masih sangat ragu dan menolak, berhubung sudah malas naik boat. Tapi beberapa teman sangat antusias.
Esoknya, kami mengikuti dan mendokumentasikan acara rabu habeh tersebut yang dihadiri oleh hampir seluruh warga menggamat. Mereka berdoa dan berpiknik ria di pinggir sungai.
Setelah selesai makan siang dari bekal yang dimasak oleh ibu keuchik, beberapa teman masih membujukku untuk ikut naik boat. Keraguanku masih sangat besar. Apalagi setelah melihat boatnya yang sangat ramping dan tidak ada jaket pelampung. Selain itu juga cerita bahwa sungai kluet selalu menelan tumbal setiap tahun pun menambah ketakutanku. Namun karena melihat banyaknya warga yang juga bolak balik naik boat dan juga ingin merasakan sensasi mengarungi singai kluet, pada akhirnya aku pun mengiyakan namun harus menunaikan shalat zuhur dulu di pinggir sungai kluet.
Baru saja selesai wudhu, hp berdering mengisyaratkan aku dan satu temanku yang bernama Zahra untuk segera bergegas karena boatnya sudah siap. dua hingga tiga kali berdering.
'Aku baru mau shalat...!!', pekikku dalam hati. Segera setelah selesai shalat, aku dan Zahra langsung berlari ke tempat boat dan menemukan pak keuchik dan teman yang lain berjalan pulang dari lokasi boat. Tidak jadi naik boat.
'Kenapa lama sekali wiridnya', hentak pak keuchik kepada aku dan Zahra.
Temanku berkata kami tidak jadi naik boat karena tukang boatnya mau makan siang karena kelamaan menunggu kami shalat.
'yasudahlah, mungkin emang gak diizinkan oleh Allah', ucapku pada Zahra.
Kami pun menunggu mobil jemputan untuk kembali ke rumah keuchik. Lama sekali kami menunggu, tiba-tiba datang pak keuchik yang baru pulang dari kebun untuk kembali mengantarkan kami naik boat. Mobil jemputan yang kemudian datang pun kami suruh untuk menunggu.
Pada akhirnya aku dan satu temanku yang awalnya ragu untuk naik boat pun setuju dan turut ikut serta bergabung dengan teman teman yang sudah yakin untuk naik boat.
'Yang penting udah shalat, apa yang terjadi terjadilah', gumamku was was.
Kami pun mulai menyusuri sungai kluet dengan perasaan senang bercampur aduk dengan perasaan takut karena ini pengalaman baru. Aku memang sudah beberapa kali naik boat, tapi yang ini terasa beda karena perjalanannya menyusuri sungai dan juga boatnya sangat ramping. Lebarnya pas-pasan hanya untuk satu orang. salah-salah bisa oleng. haha
Kami menyusuri sungai kluet hingga sampai di daerah desa sarah baru dimana terdapat pertemuan dua sungai dan langsung berbatasan dengan kawasan ekosistem leuser. Gampong Menggamat ini memang terletak berbatasan langsung dengan kawasan ekosistem leuser yang menyimpan banyak kekayaan alam di Aceh.
'Kenapa lama sekali wiridnya', hentak pak keuchik kepada aku dan Zahra.
Temanku berkata kami tidak jadi naik boat karena tukang boatnya mau makan siang karena kelamaan menunggu kami shalat.
'yasudahlah, mungkin emang gak diizinkan oleh Allah', ucapku pada Zahra.
Kami pun menunggu mobil jemputan untuk kembali ke rumah keuchik. Lama sekali kami menunggu, tiba-tiba datang pak keuchik yang baru pulang dari kebun untuk kembali mengantarkan kami naik boat. Mobil jemputan yang kemudian datang pun kami suruh untuk menunggu.
Pada akhirnya aku dan satu temanku yang awalnya ragu untuk naik boat pun setuju dan turut ikut serta bergabung dengan teman teman yang sudah yakin untuk naik boat.
'Yang penting udah shalat, apa yang terjadi terjadilah', gumamku was was.
Kami pun mulai menyusuri sungai kluet dengan perasaan senang bercampur aduk dengan perasaan takut karena ini pengalaman baru. Aku memang sudah beberapa kali naik boat, tapi yang ini terasa beda karena perjalanannya menyusuri sungai dan juga boatnya sangat ramping. Lebarnya pas-pasan hanya untuk satu orang. salah-salah bisa oleng. haha
Kami menyusuri sungai kluet hingga sampai di daerah desa sarah baru dimana terdapat pertemuan dua sungai dan langsung berbatasan dengan kawasan ekosistem leuser. Gampong Menggamat ini memang terletak berbatasan langsung dengan kawasan ekosistem leuser yang menyimpan banyak kekayaan alam di Aceh.
Sungai kluet atau sungai Lawé Kluet merupakan sungai yang memisahkan daerah kluet dimana berhulu di Gunung Leuser dan bermuara di Samudera Hindia. Bagian hulu sungai terdapat di Kecamatan Kluet Tengah, bagian badan sungai terdapat di Kecamatan Kluet Timur dan Kluet Utara, sedangkan bagian hilir sungai terdapat di Kecamatan Kluet Selatan. Peranan sungai ini menjadi sangat vital bagi masyarakat. karena memasok kebutuhan air harian untuk pertanian dan perkebunan.
Sungguh pengalaman yang mengesankan dan tak akan terlupakan
tunggu cerita-cerita lainnya ya ;)
Sungguh pengalaman yang mengesankan dan tak akan terlupakan
tunggu cerita-cerita lainnya ya ;)
Yeeeee Seila mulai menulis. Mancapppp lageeee..... aduhhhhh hawa ke Manggamat.
BalasHapus