Perempuan Peduli Leuser

Terpilih sebagai salah satu penerima beasiswa Perempuan Peduli Leuser merupakan satu hal yang sangat saya syukuri. Walaupun workshopnya baru berlangsung sekali, namun banyak pengetahuan baru yang saya dapat sehingga membuka lebar-lebar cakrawala berpikir saya. Khususnya mengenai Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang menjadi wilayah sentral kerja USAID Lestari di Aceh.

Menyebut Leuser, tentu bukan nama yang asing bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi masyarakat Aceh. Wujudnya sebagai gunung dengan ketinggian 3.404 mdpl menjadikannya sebagai gunung tertinggi di Aceh dan tentunya menjadi primadona. "Digunjingkan" semua orang terkhusus para pecinta alam dan aktivis lingkungan. Bagi seorang pendaki gunung, bisa menapakkan kakinya di puncak Leuser yang misterius adalah kebahagiaan tak terdefinisi. Nyatanya menaklukkan Leuser memang tak mudah.

Leuser kian masyur ketika pemerintah pada 1980 menabalkan namanya sebagai Taman Nasional Gunung Leuser yang mencakup Kabupaten Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tenggara, Gayo Lues, dan Aceh Tamiang. Termasuk sebagian wilayah Sumatera Utara meliputi Kabupaten Dairi, Karo, dan Langkat. (wikipedia)

Kita, masyarakat di Provinsi Aceh, patut berbangga akan hal ini. Leuser, khususnya Kawasan Ekosistem Leuser adalah milik seluruh umat yang sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup manusia. Tak hanya sebagai penyedia oksigen yang kita hirup setiap kali menarik nafas, Leuser adalah cembung air bagi kita.

Maka menjaga Leuser adalah tugas dan tanggung jawab semua orang, bukan hanya masyarakat yang berdomisili di sekitar kawasan saja. Itulah pesan tersurat yang disampaikan Bang Ivan Krisna, Koordinator USAID Lestari Aceh, dalam serial workshop pertama pada pertengahan Oktober 2017 di Blangkejeren, Gayo Lues.

Baca selengkapnya disini

Komentar

Posting Komentar